

Merdeka dari FOMO? Nggak Mungkin! Strategi Menggaet Anak Muda Zaman Now di Momen 17 Agustusan
28 August 2026
Setiap Agustus, semarak kemerdekaan bukan cuma soal upacara dan lomba tujuh belasan. Coba buka
linimasa TikTok atau Instagram anak muda sekarang, di tengah gegap gempita merah putih, ada
‘perayaan’ lain yang nggak kalah heboh: war info tempat jajan viral. Kalau bicara soal menggaet Gen Z,
jalan paling ampuh biasanya memang dimulai dari satu scroll di For You Page (FYP).
Momen kemerdekaan sebenarnya jadi panggung yang pas buat brand berefleksi: gimana caranya
“merebut” perhatian generasi yang katanya paling susah didekati ini? Jawabannya, seperti biasa, ada di
data. Berikut hasil desk research kami soal pola konsumsi dan psikologi Gen Z Indonesia, lengkap
dengan strategi yang bisa langsung dicoba brand.
Gen Z Bukan Sekadar Angka, Tapi Kekuatan Pasar
Indonesia tercatat punya lebih dari 290 juta penduduk, dan sekitar 26% di antaranya, kurang lebih 75
juta jiwa, adalah Gen Z. Artinya, satu dari empat orang yang lalu-lalang di jalan adalah bagian dari
generasi yang tumbuh besar bareng smartphone di tangan. Ini bukan cuma soal jumlah kepala, tapi soal
siapa yang sebenarnya sedang mengatur arah tren konsumsi hari ini.
Bedanya Gen Z dengan generasi sebelumnya? Mereka hidup berdampingan dengan teknologi, bukan
sekadar menggunakannya. Rata-rata mereka menghabiskan lebih dari 3 jam sehari di media sosial, dan
dari sanalah mayoritas keputusan konsumsi mereka lahir.
TikTok, FYP, dan Kekuatan "Ikut-ikutan yang Sehat"
Kalau ada satu platform yang paling bertanggung jawab atas gelombang tren makanan-minuman viral
belakangan ini, jawabannya jelas: TikTok. Algoritma FYP-nya punya kemampuan unik membentuk tren
secara cepat dan masif, hari ini belum ada yang tahu, besok semua orang sudah antre.
Contoh paling nyata: fruit cup with Dubai chewy. Tidak ada yang benar-benar tahu siapa yang pertama
kali memviralkannya, tapi begitu muncul di FYP, gelombang orang penasaran datang bertubi-tubi. Ini
bukan kebetulan, ini pola yang berulang.
FOMO (Fear of Missing Out)
Kecemasan “kalau nggak coba, ketinggalan” inilah yang mendorong Gen Z untuk ikut mencoba,
membeli, lalu posting ulang, menciptakan siklus viral yang terus berputar. Bagi Gen Z, mencoba
sesuatu yang lagi ramai bukan cuma soal rasa, tapi soal keterlibatan sosial. FOMO di sini menjadi
bahan bakar sosial, bukan sekadar rasa penasaran biasa.
Bukan Cuma Soal Makan, Tapi Soal Ikut Rame-rame
Makanan dan minuman memang kebutuhan dasar manusia. Tapi buat Gen Z, ada lapisan tambahan:
makan bukan cuma soal kenyang, tapi soal validasi sosial. Referensi dari circle terdekat, keluarga,
teman, sampai orang asing di media sosial, punya pengaruh besar terhadap keputusan mereka mau
coba makanan apa. Beberapa kategori yang paling sering jadi primadona:
• Makanan: fast food, makanan tinggi serat, dessert kekinian, sampai spicy food yang menantang
toleransi pedas.
• Minuman: teh manis, kopi manis, minuman kekinian yang gonta-ganti tren tiap bulan, minuman
tradisional yang di-rebrand jadi kekinian, sampai jus buah segar.
Semua kategori ini punya satu benang merah: gampang dikonten-kan, gampang di-review, dan
gampang bikin orang penasaran ingin coba.
Data Bicara: Angka-angka yang Bikin Makin Yakin
Biar nggak cuma modal cerita anekdot, berikut data yang memperkuat gambaran perilaku konsumsiGen Z Indonesia.

Gambar 1. Tiga angka kunci perilaku konsumsi Gen Z Indonesia
Dari sisi minuman, kopi, teh, dan susu masih jadi tiga besar yang paling rutin dikonsumsi Gen Z dalam
enam bulan terakhir. Menariknya, Gen Z jauh lebih terbuka mencoba minuman baru dibanding Milenial
yang cenderung setia pada rutinitas.

Gambar 2. Preferensi minuman Gen Z dalam 6 bulan terakhir
Fast food masih digemari, 49% Gen Z mengonsumsi makanan cepat saji 1–2 kali seminggu, bahkan 12%
mengaku makan fast food setiap hari, cocok dengan gaya hidup serba cepat dan sibuk. Tapi jangan
salah, tren sehat juga naik daun. Survei “Tren Makanan dan Minuman pada Gen Z & Milenial”
menunjukkan makin banyak Gen Z yang mulai mempertimbangkan kandungan gula hingga camilan
sehat. Artinya, “viral” dan “sehat” kini bisa jalan beriringan, asal dikemas menarik.

Gambar 3. Pola Makan Sehat
Dua temuan lain yang tak kalah penting: sebuah studi berbasis Structural Equation Modeling
menemukan pengaruh media sosial terhadap perilaku konsumsi pangan Gen Z punya koefisien
pengaruh yang signifikan, mengonfirmasi bahwa konten di FYP bukan cuma hiburan, tapi benar-benar
mendorong keputusan beli. Sementara itu, penelitian soal TikTok Shop menemukan customer review,
testimoni, dan video unboxing punya pengaruh lebih dominan terhadap keputusan beli Gen Z
dibanding promosi berbayar sekalipun.
Kombinasi data ini menegaskan satu hal: Gen Z memang gampang tergerak oleh tren viral, tapi mereka
juga makin kritis, ingin yang enak, kekinian, sekaligus terasa “jujur” dan bukan cuma settingan iklan.
Jadi, Gimana Strategi "Merdeka"-nya?
Kalau merdeka artinya bebas dari penjajahan, mungkin buat brand yang mau menggaet Gen Z,
"merdeka" berarti bebas dari cara pemasaran lama yang kaku dan satu arah. Berdasarkan pola
konsumsi di atas, ada lima jurus yang layak dicoba:
1. Main di ranah video pendek. Karena Gen Z menemukan produk lewat konten singkat, kolaborasi
dengan KOL atau kreator individu jadi jalan pintas paling efektif untuk masuk ke FYP mereka.
2. Manfaatkan skema affiliate. Terutama untuk produk makanan dan minuman ringan yang
harganya terjangkau, affiliate marketing bikin proses “lihat-tertarik-beli” jadi lebih pendek dan
mulus.
3. Ciptakan momen FOMO yang terkontrol. Rilis terbatas, kolaborasi musiman (termasuk tema 17
Agustusan!), atau varian “cuma ada bulan ini” bisa memicu rasa penasaran tanpa perlu strategi
mahal.
4. Libatkan referensi grup. Dorong konten yang sifatnya “ajak teman coba bareng” karena keputusan
Gen Z jarang berdiri sendiri, selalu ada pengaruh circle di baliknya.
5. Perkuat bukti sosial lewat UGC dan review jujur. Dorong pembeli untuk posting ulasan atau video
unboxing, ini terbukti lebih dipercaya Gen Z ketimbang iklan berbayar.
Penutup: Merdeka Itu, Adaptif Terhadap Zaman
Kalau dulu strategi pemasaran cukup lewat baliho dan iklan TV, sekarang kuncinya ada di kecepatan
membaca tren dan keberanian untuk "ikut arus" tanpa kehilangan identitas brand. Di tengah semangat
17 Agustusan, mungkin ini juga saatnya brand-brand merdeka dari cara lama, dan mulai bicara dengan
bahasa yang benar-benar dipahami anak muda zaman now: bahasa FYP, bahasa FOMO, dan tentu saja,
bahasa rasa.
Mungkin anda akan menyukai ini


